Senin, 17 Oktober 2011

Anjing dan Bayangannya

Anjing dan bayangan dirinyaSeekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.
Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.
Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah

Musikalisasi DImas, dkk

Musikalisasi Puisi Angga, Bintar, dkk


Jumat, 14 Oktober 2011

Cerpen "Aku Sayang Bunda"


“AKU SAYANG BUNDA”
Karya: SULASTRI, S.Pd.

Di Kelurahan Mangkualam hiduplah dua orang suami istri yang kurang mampu, sehari-hari suami istri berusaha mencukupi kehidupan mereka dengan menjual mainan untuk anak-anak kecil walau dengan modal seadanya. 
Dilain pihak, pasangan suami istri ini sangat berharap hadirnya bayi mungil ditengah keluarga kecil mereka, karena sejak lima tahun pernikahan mereka belum ada tanda-tanda kehamilan untuk si ibu. Setelah berobat kemana-mana, akhirnya sang ibu dapat hamil, dengan bantuan seorang paranormal.
***
Entah karena faktor apa, si ibu mengandung bayinya mencapai 12 bulan akhirnya pada saat melahirkan sang ibu merasa kesulitan, beberapa bantuan telah didatangkan mulai dari dokter sampai dukun tradisional, namun belum berhasil juga.
Setelah hampir 3 hari proses persalinan sang bayi belum juga dapat dilahirkan, saat yang bersamaan juga paranormal yang membantu sang ibu untuk hamil datang ke rumah sang ibu, hanya dengan sekali sentuhan paranormal tadi sang ibu dengan mudahnya melahirkan sang bayi, dengan berat hampir 4 kilogram.
***
Perkembangan sang bayi berjalan cukup pesat karena memang sang bayi gemuk saat dilahirkan, pada saat sang bayi berumur 5 bulan, beratnya sudah menyamai teman-temannya yang berumur 1 tahun.
Namun, pasangan suami istri ini cukup mengalami kesulitan menghidupi sang bayi karena konsumsi makannya yang berlebih. Setiap hari pasangan suami istri ini bertengkar karena permasalahan yang sepele. Akhirnya, genap usia sang bayi satu tahun pasangan suami istri ini bercerai karena saling tidak tahan dengan emosi masing-masing.
***
Sejak perceraian itu, sang ibu membiayai sendiri hidupnya dengan sang bayi walaupun dengan penuh perjuangan membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Sang ibu berusaha keras, berjuang hampir seluruh tenaga diperas, demi kebahagian sang buah hatinya. Sang ibu sama sekali tidak menginginkan bayinya disakiti, lebih baik dia tidak makan tiga hari asalkan bayinya dapat tersenyum setiap hari.
Hari berganti hari, sang bayi pun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan banyak digemari para lelaki, si ibu sangat bahagia melihat pertumbuhan anaknya. Namun disamping itu, sang ibu juga khawatir apabila nanti anaknya terpengaruh untuk menikah muda, beliau takut kalau sang gadis akan menemukan jodohnya yang kurang tepat, sehingga nanti anaknya tidak mampu merasakan bahagianya hidup.
Ternyata, sang gadis merasakan kegundahan ibundanya, lalu sang gadis pun mengungkapkan isi hatinya, sembari menenangkan ibundanya, sang gadis berkata kepada sang ibu “Bunda, walau segudang harta ada dihadapan mata, walau ada sejuta cinta di luar sana, namun aku tidak akan pernah tergoda, karena memang cinta dan hartaku adalah Bunda”, kalimat inilah yang meyakinkan sang ibu, bahwa anaknya memang telah dewasa, dan mampu berfikir untuk kelangsungan keluarga.
Karena sang gadis telah terbiasa dengan kehidupan yang sulit, sang gadis pun bertekad untuk berjuang sekuat tenaga agar dapat membahagiakan ibunya yang sudah mulai tua dan sakit-sakitan.
***
Selesai sekolahnya di SMK sang gadis tidak berfikir untuk melanjutkan kuliah, yang hadir dalam benaknya adalah bagaimana membiayai kehidupan dia dan ibunya. Karena memang dari awal, si gadis memilih sekolah di SMK bukan SMA adalah dia mendapat keahlian khusus setelah tamat dari sekolah ini, dengan kemampuan seadanya dan ijazah SMK nya sang gadis mencoba memasukkan surat lamarannya ke beberapa perusahaan yang ada di kotanya, setelah menunggu beberapa minggu akhirnya ada juga perusahaan swasta yang mengajaknya bekerja.
Selama bekerja di perusahaan tersebut, sang gadis cukup berkompeten untuk melaksanakan tugasnya, sehingga banyak proyek-proyek yang diikutinya untuk menambah penghasilannya.
Setelah hampir sukses dengan pekerjaannya, sang gadis baru berfikir untuk melanjutkan kuliahnya. Akhirnya, keputusan itu diambil sang gadis untuk kuliah sambil bekerja. Sang gadis berniat sepulang dari kerja, malamnya sang gadis mengikuti mata kuliah. Awalnya sang ibu khawatir akan kesehatan buah hatinya dengan keadaan yang akan terjadi namun sang gadis berusaha menjelaskan dan merayu sang ibu, akhirnya sang ibu menyetujui dan merestui anaknya, hal ini dijalani sang gadis sampai 4 tahun.
Walau semua keluarga mencemooh mereka, namun tekad bulat tetap dipertahankan untuk mendapatkan hasil yang mereka harapkan, untuk menjadikan keluarga kecil mereka menjadi keluarga yang mampu bersaing baik di keluarga maupun di mata dunia.  
***
Akhirnya wisuda telah didepan mata, si gadis kecil mampu menghadiahkan gelar sarjananya kepada ibunda tersayang, dengan mata berbinar, dengan tangis bahagia yang terungkap, sang ibu dan si anak berpelukan sekaligus bersyukur kepada Allah, bahwa apa yang mereka inginkan alhamdulillah semuanya tercapai. Ini berkat tekad yang tertanam dalam keluarga kecil ini, “DIMANA ADA KEMAUAN, DISITU PASTI ADA JALAN.  
Dengan rasa bangga dan bahagia sang ibu mencium penuh kasih sayang di kening sang gadis dan berkata “Bunda sayang kamu sayang, sekarang dan selamanya” akhirnya kedua insan ini saling menangis mengungkapkan rasa sayang mereka. Sang bunda berbisik “akhirnya kamu berhasil sayang”, lalu sang anak berkata “tak ada keberhasilan yang dapat saya rasakan tanpa usaha dan kasih sayang bunda, tak ada senyuman dihari-hariku tanpa pelukan bunda, tak akan berhasil usahaku tanpa doa bunda, AKU SAYANG BUNDA”

Cerita Pendek


TERINSPIRASI DARI MAAFNYA
RASULULLAH SAW

Mengilhami dari maafnya Nabi Muhammad SAW, terkisah dari Tsumamah bin Itsal (seorang lelaki Arab dari Kabilah Al Yamamah) yang pergi ke Madinah dengan tujuan satu, yaitu membunuh Nabi Muhammad SAW. Saat perjalanannya ingin membunuh rasulullah, Umar bin Khatab telah melihat gelagat jahat dari Tsumamah, maka dengan segera Umar mengikat Tsumamah.
Ketika dalam ikatannya rasulullah melihat Tsumamah, dan berkata “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?seketika mendengar ucapan rasulullah, Umar menjawab “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!”. Rasulullah seolah tidak mendengar, dan berkata “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itutanpa membantah Umar langsung melaksanakan perintah Rasulullah.
Setibanya Umar mengambil susu, rasulullah meminta Tsumamah untuk meminumnya dan mengucapkan “Laa ilaha illallah”. Tsumamah menjawab tidak ingin mengucapkan kata itu, namun rasulullah mengulanginya lagi, Tsumamah tetap menjawab tidak.
Akhirnya rasulullah meminta Umar untuk membebaskan Tsumamah.
***
Begitu besar maaf rasulullah salah satunya terhadap Tsumamah, yang memang berniat jahat ingin membunuh, namun rasulullah tetap membalasnya dengan kebaikan. Begitu mulia hati rasulullah yang mengajarkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Banyak terjadi di dunia ini, apalagi di zaman sekarang ini, dendam dibalas dengan darah, karena manusia tidak pernah puas hanya dengan perang mulut.
Dalam alquran tertulis: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S. An-Nuur 24 :22), bagi kita mengatakan maaf adalah mudah. Tetapi, membebaskan diri dari rasa benci dan marah adalah susah.
***
Disaat usiaku genap 12 tahun, pernah terjadi permasalahan antara ibuku dan ayahku yang menyebabkan hubungan pernikahan mereka berakhir. Setelah perceraian itu, aku merasa terpukul dengan keadaan ini, aku terpaksa ditempatkan dengan situasi yang rumit, aku harus berjuang dengan ibuku untuk hidup.
Dalam perjalanan hidup kami, aku merasa benci dengan ayahku, aku berpikir “mengapa ayah harus egois dengan keinginannya, mengapa ayah tidak mengalah saja dengan pemikiran ibu, tapi ah, sudahlah…, toh semuanya telah terjadi, ayah dan ibuku telah berpisah”, aku harus tetap bertahan. Mulanya, aku membenci ayahku, begitu juga dengan ibu yang teramat sangat sakit ditinggal ayah, aku selalu teringat dengan caci maki ayah sebelum terucap kata-kata cerai dari mulut ayah.
Kami bertahan hidup, sehari-hari ibu membanting tulang demi menghidupi keluarga kecil kami dengan mengambil cucian baju dan menyetrikanya kepada tetangga-tetangga di sekitar rumah kami, maka dari itu aku juga berniat untuk membantu ibu. Sepulang sekolah, aku membantu ibu menjual koran, demi menambah penghasilan ibu. Hari-hari kami jalani hidup dengan bekerja.
***
Rasanya dongkol di hati sering muncul saat aku menjalani hidup, “alangkah kejamnya ayah terhadap ibu, alangkah teganya ayah memaksaku menjalani hidup sesulit ini”. Seringkali aku protes kepada ibu, aku marah-marah kepada ibu, namun ibu selalu menjawab dengan sabar dan senyuman yang manis.
Ibu selalu memaafkan kesalahan orang lain, pernah suatu saat tetangga mencaci maki ibu karena ibu mencuci kurang bersih dan setrikanya kurang rapi. Namun ibu menjawab dengan kata maaf dan menyetrikanya ulang. Ibu tidak pernah marah dan tidak membalas cacian itu, beberapa hari kemudian ibu itu (tetangga yang marah-marah terhadap ibu) menderita sakit kaki dan tidak ada sama sekali orang yang menolongnya, namun ibu, menolongnya dengan rasa penuh ikhlas. Akhirnya ibu tadi (majikan) memohon maaf dan berlaku baik terhadap ibu.
***
Satu hari kami mendengar ayah sakit keras dan tinggal di rumah sakit, ayah koma dan diperkirakan dokter hampir meninggal dunia. Ibu terkejut dan hampir pingsan, namun masih ada rasa benci dihatiku, aku masih ingat kata-kata kasar yang keluar dari mulut ayah, seolah menganggap ayah sebagai iblis yang kejam kepadaku. Aku tidak ingin menjenguk ayah walaupun ibu bersikukuh mengajakku ke rumah sakit.
Saat yang sama ibu menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW dengan Tsumamah bin Itsal, awalnya aku tak mengerti dengan cerita itu, namun ibu berkata “maaf adalah surga dunia”, aku makin tidak mengerti dengan kata-kata ibu, sampai aku mengerti bahwa aku harus memaafkan ayah dan harus menemui ayah, karena ayah merasa sedih apabila aku tidak menemui ayah.
***
Akhirnya dengan titik air mata, aku memeluk dan mencium tubuh ayahku yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit yang tampak lusuh dan kotor. Aku berbisik di telinga ayah, aku meminta maaf kepada ayah, aku telah memaafkan semua salah ayah. Aku meminta ayah cepat sembuh agar dapat berkumpul kembali.
Setelah beberapa hari, ayah terbaring di rumah sakit dengan di rawat ibu, ayah akhirnya dapat pulih kembali, ayah sehat, berkat izin Allah SWT, ayah kembali ke rumah dan kembali kumpul dengan keluarga kecilku.
***
Sebulan kemudian, ayah dan ibu mendatangi KUA di dekat rumah untuk berniat rujuk kembali, dalam hati kecilku berpikir, begitu cepatnya ibu memaafkan segala kesalahan ayah, yang menurutku itu adalah kejahatan yang tak termaafkan, namun dengan lapang dada ibu mengajak kembali rujuk ayah.
Di waktu senggang ibu, aku bertanya dengan ibu untuk memuaskan pertanyaan dalam benakku, dengan ramah ibu menjawab “ibu hanya mengharap ridha Allah SWT” dengan memaafkan kesalahan orang lain maka surga menanti kita. Sekarang ayah dan ibu hidup bahagia kembali bersama keluarga kecilku yang baru.
***
Terinspirasi dari kisah Tsumamah itulah aku berusaha memaafkan semua kesalahan orang lain. Karena sifat memaafkan juga terbukti baik bagi kesehatan. Penelitian membuktikan bahwa memaafkan baik bagi jiwa dan raga. Dr. Frederic Luskin memaparkan bahwa sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat, dan stres. Kemarahan kita terhadap seseorang hanya akan menimbulkan emosi negatif dalam diri kita.
Benci dan marah adalah keadaan yang merusak diri. Di sisi lain, memaafkan, meskipun terasa berat, tetapi membahagiakan. Satu bagian dari akhlak yang terpuji. Memaafkan mampu menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan dan membantu orang tersebut untuk menikmati hidup secara sehat. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan tetaplah harus untuk mendapatkan ridha Allah swt.
"Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Q.S. As-Shura 42 : 43). Mari kita belajar untuk memaafkan orang lain agar kebaikan dari Allah swt. senantiasa dilimpahkan kepada kita.

Cerita Pendek "Ibu yang Penuh Dosa'


IBU YANG PENUH DOSACERITA PENDEK




OLEH
SULASTRI, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia








SMA NEGERI 3 KAYUAGUNG
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
SUMATERA SELATAN

Pentas Drama Tahun Pelajaran 2009/2011



Kamis, 13 Oktober 2011