Selasa, 29 Mei 2012

Professor yang professional

Laku.com

Seorang profesor sedang memberikan pelajaran autopsi (bedah mayat) kepada para mahasiswa kedokteran yg mengelilinginy disuatu kelas. sang profesor berdiri disebelah mayat yg terbaring telungkup diatas meja.

"dalam dunia kedokteran,kita harus selalu ingat akan 2 hal penting.
pertama,kita harus tegar dan tdk mudah jijik"

Demikian kata profesor sambil mencolokkan jariny ke anus mayat lalu menjilatiny habis2an sprti makan eskrim.

"ayo,skrg giliran kalian praktek"

Maka dg amat sangat terpaksa para siswa itupun melakukan ap yg dipraktekkan oleh profesor. setelah semua siswa mndpt giliran utk melakukan, sang profesor melanjutkan kuliahny.

"dan yg kedua adalah memperhatikan sesuatu dg sangat cermat! coba, berapa diantara kalian yg memperhatikan bahwa tadi sy mencolokkan jari telunjuk dan menjilat jari tengah?"

#ngikkK…muntah2 ampe matek!

3 Sekawan

laku.com

kan ada tiga sekawan yaitu kodok,kecoa,dan ulatkaki seribu. terus si kodok membuat pesta dan mengundangdua kawannya tersebut sewaktu peesta berlangsung si kodok pun berkata
kodok =eh lupabeli rokok mulutdah asem nih, ulat pergi beliin rokok dong kecoa lu juga mau kan merokok
kecoa = so pastilah iya sana ulat beliin gue juga rokok
kaki lu kan ada seribu pasti cepet nyampenya
ulat kaki seribu = kok gue sih kenapa kau saja kodok
kodok = kan gue yang buat pesta karena kalu kamu cepet kan
ulat kaki seribu =ok deh gue pergi
dan si ulat pun pergi. si kecoa dan kodok pun menunggu setelah tunggu satu jam ulat belum muncul, 2jam kemudian nggak muncul-muncul.
kecoa = mana sih ulat gak muncul-muncul asem nih bibir
kodok = iye nih kta susul saja yuk
kecoa = oke deh
kata kecoak saat mereka pun pergi keluar dan terkejut
karena melihat kaki seribu ada di luar
kodok = ulat kok kamu belum pergi
ulat kaki seribu = lo gak lihat gue masih pasang sepatu

Rabu, 09 Mei 2012

Ibu Kandung yang Kejam

Selasa, 08 Mei 2012

Lucu gak ya....????

Laku.com
Seorang bos tiba2 melakukan sidak ke pabriknya untuk melihat kinerja pegawainya.

Di pabrik ia menemukan seorang pria muda sehat dan segar yg tengah bersandar santai-santai, sementara di ruangan itu semua pegawai sibuk bekerja.

Si bos segera menghampiri pria yg sedang berdiri santai itu dan bertanya, "Berapa gajimu sebulan?"

Dengan sedikit gugup pria itu menatap si bos dan menjawab," hemmm... Rp2 juta pak, emangnya kenapa pak..?"
Si bos lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil lembaran2 pecahan 100 ribuan lalu menyerahkan kpd pria itu sambil berkata, "Ini gajimu 3 bln ke depan, Rp6juta, pesangonmu!! Cepat keluar, pergi dari sini. Jangan balik lag!"

Dengan gugup dan setengah takut pria itu segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara.

Lalu dg muka yg berwibawa si bos mendekati pegawai lain yg sejak tadi menyaksikan adegan tsb. "Itulah nasib pekerja yang santai-santai di pabrik saya. Saya berhentikan saat ini juga. Tidak ada tawar-menawar.
Kalian semua MENGERTI ?!?!? OK, adakah yang tahu dari divisi mana pemuda itu?" tanyanya.

Suasana jadi hening sampai akhirnya seorang staf menjawab dg sedikit ketakutan, "Ia tidak bekerja disini pak, ia adalah pengantar pizza yg mengantar pesanan dan sedang menunggu bayaran dari saya..."

Kalau suka bantu share sm Like nya yah... ^^b

Rabu, 02 Mei 2012

PUISI

Label: , ,

Puisi adalah karya sastra yang universal. Puisi dapat mengungkapkan berbagai perasaan sedih dan gembira yang dialami oleh penyairnya. Bahasa yang digunakan penyair dalam menulis puisi mampu mengungkap latar belakang sosial, budaya, politik tempat penyair itu berada. Sebagai contoh, puisi-puisi Chairil Anwar dan puisi Angkatan ’45 lainnya, kebanyakan bercerita tentang keadaan sosial-politik pada waktu itu, yakni banyak terjadi peperangan. Jika puisi-puisi tersebut dibaca dalam konteks saat ini, pembaca pun akan dapat mengungkap realitas sosial-politik pada waktu itu, ketika puisi puisi itu diciptakan.

Begitu pula dengan puisi dari negara lain (puisi berbahasa asing). Secara struktural, puisi terjemahan diciptakan dengan struktur yang sama, yaitu memiliki tema, nada, rasa, dan amanat. Teknik yang digunakan dalam mengekspresikannya pun sama, yaitu rima, ritme, majas, diksi, imaji, dan kata nyata. Akan tetapi, karena latar belakang, pengalaman hidup, dan pengalaman batin penyair berbeda, isi puisi yang disajikan pada puisi dari negara yang berbeda akan memiliki kekhasan tersendiri. Karena kemajuan teknologi informasi, banyak karya sastra dari negara lain yang bisa dibaca di Indonesia.
Banyak pula pembaca di Indonesia (penikmat puisi) menyukai syair-syair dari negara lain. Bahasanya yang indah, pilihan katanya yang puitis, sering kali menjadi faktor mengapa sebuah puisi sangat disukai. Lebih dari itu, kedalaman makna yang terkandung dalam puisi tersebut, menjadi alasan penting mengapa seseorang menyukai puisi asing. Adanya kendala keterbatasan penguasaan bahasa asing, mendorong beberapa penyair menerjemahkan puisi-puisi asing tersebut. Dengan demikian, kini para pembaca dan penikmat puisi dapat mengapresiasi sebuah puisi melalui karya terjemahan tersebut.
Perhatikan salah satu contoh puisi terjemahan berikut ini!
Bibir yang Tersayat
Karya Samih al-Qasim
Ingin kuceritakan kepadamu
Kisah tentang seekor bulbul yang mati
Ingin kuceritakan kepadamu
Kisah .............................................
Kalau saja tak mereka sayat bibirku
Dikutip dari Membaca Sastra, hlm. 54
Merujuk pada puisi di atas, kita dapat mengetahui bahwa tema puisi di atas adalah ”kepedihan seseorang akibat ketertindasan”. Hal itu terungkap lewat larik puisi Ingin kuceritakan kepadamu/ Kisah tentang seekor bulbul yang mati// Kesedihan penyair lebih terasa karena ia dilarang berbicara untuk mengungkapkan kepedihan hatinya. Hal itu terungkap lewat larik puisi Ingin kuceritakan kepadamu/ Kisah ......../ Kalau saja tak mereka sayat bibirku// Pilihan kata di atas: ingin, mati, sayat jika dikaitkan dengan kondisi politik tempat penyair hidup (Palestina), tentu saja akan menimbulkan penafsiran yang sangat mendalam.

Pilihan kata tersebut merupakan ekspresi ketertindasan rakyat Palestina karena dirampas
haknya (hak untuk berbicara). Selain simbol-simbol bahasa berupa bunyi dan kata, teknik penuturannya pun dapat dijadikan alat untuk menyampaikan makna tertentu. Pada puisi ”Bibir yang Tersayat” di atas, penyair lebih memilih teknik bercerita atau berkisah. Pada puisi tersebut, pembaca dapat mengetahui bahwa penyair merasa tertekan karena kondisi politik yang terjadi di negaranya. Ia ingin sekali melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi itu, namun ia tak berdaya akibat adanya perampasan hak bicara.

Puisi lama merupakan pencerminan masyarakat lama yang masih kuat berpegang pada adat. Berbeda dengan puisi lama, puisi baru merupakan pencerminan masyarakat baru. Puisi baru tidak terlalu terikat pada aturan, terutama dalam persajakan. Puisi baru juga mencerminkan sifat kepribadian individual. Timbulnya puisi baru dipelopori oleh para sastrawan muda dalam Angkatan Pujangga Baru. Pada tahun 1930-an merupakan masa tumbuh dan berkembangnya semangat persatuan dan kesatuan. Puisi baru memang tidak terlalu terikat pada aturan sebagaimana puisi lama. Akan tetapi, dalam pembuatan puisi baru, tetap memerhatikan bait, irama, dan rima.
Perhatikan contoh puisi baru berbentuk soneta berikut!
Api Suci
Sutan Takdir Alisjahbana
Selama napas masih mengalun,
Selama jantung masih memukul,
Wahai api bakarlah jiwaku,
Biar mengaduh biar mengeluh.
pengantar
Seperti waja merah membara,
Dalam bakaran api nyala,
Biar jiwaku habis terlebur,
Dalam kobaran nyala raya.
kuatren
Sesak mendesak rasa di kalbu,
Gelisah liar mata memandang,
Di mana duduk rasa dikejar.
isi
Demikian rahmat tumpahkan selalu,
Nikmat rasa api menghangus,
Nyanyian semata bunyi jeritku.
Pada contoh puisi baru tersebut, masih tampak penggunaan
Pembahasan
tentang isi puisi berkenaan dengan gambaran pengindraan atau
pencitraan, perasaan atau emosi, pikiran, dan imajinasi.
1. Gambaran Pengindraan dalam Puisi
Gambaran pengindraan dalam puisi meliputi pengindraan
penglihatan, pendengaran, dan perasa. Pengindraan penglihatan
dapat ditemukan dalam larik-larik puisi

”Gadis Peminta-minta”
karya Toto Sudarto berikut.
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa.
....
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Melalui kata-kata tersebut, pembaca seolah-olah dapat melihat
kedukaan penyair secara lebih jelas.
Pengindraan pendengaran adalah ungkapan dari penyair
dalam puisi yang membuat pembaca seolah-olah dapat
mendengarkan suara yang digambarkan oleh penyair. Contoh
pengindraan pendengaran dapat ditemukan dalam larik-larik
puisi ”Asmaradana” karya Goenawan Mohamad berikut.
Ia dengan kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari
daun
Karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta
langkah pedati. Ketika langit bersih menampakkan bima
sakti.
....
Pengindraan perasa merupakan penciptaan ungkapan oleh penyair yang dapat memengaruhi perasaan pembaca puisi. Contoh pengindraan perasa dapat ditemukan dalam larik-larik puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar sebagai berikut.
....
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengab harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Penggunaan kata-kata dalam larik-larik puisi tersebut
mengajak pembaca merasakan kedukaan secara mendalam.

2. Emosi dalam Puisi
Emosi atau perasaan merupakan unsur yang utama dan mendasar dalam puisi. Emosi sangat beragam, misalnya menggembirakan, menyedihkan, mengerikan, menakutkan, benci, jijik cemburu, malu, dan sebagainya. Emosi dalam puisi harus cocok dan seimbang dengan situasi yang dikemukakannya. Contoh larik puisi yang mengungkap emosi penyesalan dapat ditemukan dalam larik-larik puisi ”Menyesal” karya Ali Hasjmi
berikut.
Akh, apa guna kusesalkan.
Menyesal tua tidak berguna,
Hanya menambah luka sukma.

3. Imajinasi
Imajinasi dalam puisi merupakan daya pikir penyair untuk membayangkan atau menciptakan gambaran kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalamannya. Berikut adalah contoh imajinasi Burhanudin yang ditulis dalam puisi berjudul ”Senja di Pantai”

Senja di Pantai
Lihat perahu yang tertambat
debur ombak tanpa lelah
riaknya tinggalkan buih
saksikan kesendirian, berjalan
menyisir pantai, pasir bisu
rumah kerang dan siput yang rapuh
tanpa sapa,
nestapa 
sebagai kamu yang makin jauh
 
http://jurangpengetahuan.blogspot.com/2011/01/puisi.html

Minggu, 29 April 2012

PENULISAN KATA

. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya: ibu, percaya, kantor

B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya: dikelola, bergeletar, penetapan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Mislanya: menggarisbawahi, penghacurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adipati, mahasiswa, mancanegara

C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak, gerak-gerik

D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazin disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: duta besar, orang tua, kambing hitam
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan. Misalnya: alat pandang-dengar
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya: acapkali, matahari, manasuka

E. Kata Ganti –ku, kau-, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: kumiliki, kauambil, bukuku, rumahmu, bajunya

F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: di lemari ke pasar, dari Banjarmasin

G. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: sang Kancil, si pengirim

H. Partikel
1. Paratikel –lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Bacalah buku itu baik-baik.
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya: …per 1 April.

I. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya:A.S. Kramawijaya
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misanya: DPR
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll.
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya: Cu, TNT, Rp

2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya: ABRI, LAN, IKIP
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital Misalnya: Akabri, Bappenas
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu, radar, rapim

J. Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi. Angka Arab: 0, 1, 2 Angka Romawi: I, II
2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas. Misalnya: 0,5 sentimeter, 100 yen
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya: Jalan Tanah Abang I No. 15
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan utuh. Misalnya: dua puluh dua, dua ratus dua puluh dua
b. Bilangan pecahan. Misalnya: seperenam belas, tiga dua pertiga
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut. Misalnya: Paku Buwono X, Bab II, Tingkat V, Abad ke-20
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut. Misalnya: tahun ’50-an, uang 5000-an
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilagan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya: Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, sesunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat. Misalnya: Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya: Perusahaan itu baru saja mendapat pinaman 250 juta rupiah.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya: Kantor kami memunyai dua puluh orang pegawai.
12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya: Saya lampirkan tanda uang sebesar Rp 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

Kamis, 26 April 2012

Laku.com (== RENUNGAN ==)

8 fakta kelakuan anak terhadap orang tua:

1. Anak sering berfikir orang tuanya pilih  kasih terhadap saudaranya
2. Anak sering selalu merasa terkekang oleh orang tuanya
3. Anak sering merasa lebih pintar dan membantah nasihat orang tuanya
4. Anak sering merasa bahwa dirinya tidak di sayang
5. Anak sering memperhitungkan segala sesuatu yang telah ia lakukan untuk orang tuanya
6. Anak sering mempertanyakan & membingungkan harta warisan
7. Anak sering menganggap remeh sesuatu pekerjaan yang telah diberikan oleh Orang tuanya
8. Anak sering membentak orang tuanya saat berbicara

8 Fakta yang tidak diketahui oleh anak:

1. Anak tidak mengerti jika dibalik sepengetahuannya orang tuanya selalu memuji anak di depan saudaranya
2. Anak tidak mengerti bahwa semua yang di lakukan orang tuanya hanya untuk kebaikan masa depan anak2nya
3. Anak tidak mengerti bahwa orang tuanya telah menjalani kehidupan yang lebih keras dibanding anak2nya
4. Anak tidak mengerti bahwa di setiap doa dan harapan orang tua nama anak selalu di  ingat
5. Orang tua tidak pernah memberitahukan mengenai pengorbanannya selama  melahirkan anda
6. Orang tua telah mempersiapkan harta warisan untuk anaknya, hanya tinggal  menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan
7. Orang tua tidak rela melihat anaknya hidup bersusah - susah di tempat orang lain.
8. Anak tidak mengerti setiap kali ia membentak, hati orang tua akan bergetar dan menyebabkan umurnya lebih pendek

Jika anda telah memahami dan merasa bersalah kepada orang tua anda. Segera..!!!  Hampiri orang tua anda, peluk mereka, bisik'an kata MAAF di telinga mereka, dan berjanjilah tidak melakukannya lagi.
Sebelum semuanya terlambat dan orang tua anda meninggalkan anda...!!! 

Jika anda telah membaca pesan ini. Lanjutkan'lah kepada seluruh teman anda, biarkan berita ini dapat di ketahui banyakorang dan membuat anak tersadar bila ada perbuatannya tak layak terhadap orang tua
mereka.

Love u mom
Love u dad..

Laku.com (AYAH TIRI)

Sebuah kisah nyata yang dikutip dari sebuah Tulisan''
Sebuah kisah inspiratif & memberikan motivasi hidup.

"Ayah kandungku meninggal krn kanker paru² stadium akhir saat saya berusia 6 thn. Beliau juga meninggalkan Ibu & Adik saya yg masih berusia 2 thn. Sejak saat... itu kehidupan kami se-hari² sangat sulit. Setiap hari Ibu bekerja membanting tulang di sawah hanya cukup utk menyelesaikan masalah perut saja.

Saat saya berusia 9 thn, Ibu menikah lagi & menyuruh kami memanggilnya Ayah. Pria tsb adlh Ayah Tiri saya. Utk selanjutnya Beliau yg menopang keluarga kami.

Dlm ingatan masa kecil, Ayah Tiri saya seorang yg sangat rajin, Beliau juga sangat menyayangi Ibu. Pekerjaan apa saja dlm keluarga yg membutuhkan tenaganya akan Beliau lakukan, selamanya tdk membiarkan Ibu utk campur tangan.

Se-hari² Ayah Tiri adlh orang yg pendiam. Usianya kira² 40-an lebih, berperawakan tinggi & kurus, tetapi bersemangat. Dahinya hitam, memiliki sepasang tangan besar yg kasar, di wajahnya yg kecoklatan terdapat sepasang mata kecil yg cekung.

Ayah Tiri saya mempunyai suatu kebiasaan, tdk peduli pergi kemana pun, diatas pinggangnya selalu terselip sebatang pipa rokok antik berwarna coklat kehitaman. Setiap ada waktu senggang dia selalu menghisap rokok menggunakan pipa itu. Sejak dulu saya tdk suka dgn perokok, oleh karenanya saya juluki dia dgn sebutan “setan perokok”.

Dlm ingatan saya, Ayah Tiri selalu tenang dlm menghadapi segala persoalan, tdk peduli besar kecilnya permasalahan selalu dihadapinya dgn santai. Namun hanya krn sebatang pipa rokok, Ayah Tiri tlh memberikan saya satu tamparan yg sangat keras.

Teringat wkt itu Ayah Tiri baru saja menjadi anggota keluarga kurang lebih ½ thn, suatu hari saya menyembunyikan pipa rokoknya. Hasilnya, Beliau selama bbrp hari merasa gelisah & tdk tenang, sepasang matanya merah laksana berdarah. Akhirnya krn saya diinterogasi dgn keras olh ibu, dgn berat hati saya menyerahkan pipa rokok itu.

Ketika saya menyerahkan pipa itu kehadapan Ayah Tiri, Beliau menerimanya dgn tangan gemetaran & tak lupa Beliau memberikan saya satu tamparan keras, kedua matanya berlinangan air mata.

Saya sangat ketakutan & menangis, Ibu menghampiri & memeluk kepala saya lalu berkata, “Lain kali jgn pernah menyentuh pipa rokok itu, mengertikah kamu? Pipa itu adlh nyawanya!”

Stlh kejadian itu, pipa rokok itu menjadi penuh misteri bagiku. Saya berpikir, “Ada apa dgn pipa itu shg membuat Ayah Tiri bisa meneteskan air mata? Pasti ada sebuah kisah tentangnya.”

Mungkin tamparan itu tlh menyebabkan dendam terhadap Ayah Tiri, gak peduli bgmnpun jerih payah pengorbanannya, saya gak pernah menjadi terharu. Sejak usia belia, saya selalu berpendapat Ayah Tiri sama jahatnya spt Ibu Tiri dlm dongeng Puteri Salju. Sikap saya terhadap Àyah Tiri sangat dingin, acuh tak acuh, lebih² jangan harap menyuruh saya memanggil dia “Ayah”.

Tapi ada sebuah peristiwa yg membuat saya mulai ada sedikit kesan baik terhadap Ayah Tiri.

Suatu hari ketika saya baru pulang sekolah, begitu masuk rumah segera melihat kedua tangan Ibu memegangi perut sambil berteriak kesakitan. Ibu ber-guling² di ranjang, butiran besar keringat dingin bercucuran di wajahnya yg pucat.

Celaka! Penyakit maag Ibu kambuh lagi! Saya & Adik menangis mencari Ayah Tiri yg bekerja di sawah. Mendengar penuturan kami, dia segera membuang cangkul ditangannya, sandal pun gak sempat dia pakai. Sesampai di rumah tanpa berkata apapun, segera menggendong Ibu ke rumah sakit spt orang sedang kesurupan. Ketika Ibu & Ayah Tiri kembali ke rumah, hari sudah larut malam, Ibu kelelahan tertidur pulas di atas pundak Ayah Tiri.

Melihat kami berdua, Ayah Tiri dgn nafas ter-sengal², tertawa & berkata kpd kami, “Beres, sdh tdk ada masalah. Kalian pergilah tidur, besok masih hrs bersekolah!” Saya melihat butiran keringat sebesar kacang berjatuhan bagai butiran mutiara yg terburai, jatuh pd sepasang kaki besarnya yg penuh tanah.

Kesengsaraan yg saya alami dimasa kecil, membuat saya memahami penderitaan seorang petani. Saya menumpahkan segala harapan saya pd ujian masuk ke Universitas. Tetapi pertama kali mengikuti ujian, saya mengalami kegagalan.

“Bu, saya sangat ingin mengulang sekali lagi,” pinta saya pd Ibu.

“Nak, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi kita, adikmu juga masih sekolah di SMA, kesehatan Ibu juga tdk baik, pengeluaran dlm keluarga semua menggantungkan Ayahmu. Lihatlah sendiri ada berapa gelintir orang di desa ini yg mengenyam pendidikan SMA? Ibu berpendapat kamu pulang ke rumah utk membantu Ayahmu!”

Tp saya sdh menetapkan niat, bersikap teguh tdk mau mengalah. Saat itu Ayah Tiri tdk mengatakan apa², Beliau duduk di halaman luar menghisap rokok dgn pipa kesayangannya. Saya tdk tahu di alm benaknya sedang memikirkan apa.

Esok harinya Ibu berkata pd saya, “Ayah setuju kamu kuliah, giatlah belajar!”

Ayah Tiri menjadi orang yg pertama kali menerima & membaca surat penerimaan mahasiswa saya. “Bu, anak kita diterima diperguruan tinggi!” teriaknya.

Saya & Ibu berlari keluar dr dapur. Ibu melihat & membolak-balik surat panggilan itu meski satu huruf pun dia tdk mengenalinya. Tetapi kegembiraan itu tersirat dr tingkah lakunya. Malam itu tak tahu mengapa Ayah Tiri sangat gembira hingga bicaranya juga banyak.

Saya mengambil botol arak dimeja makan & dgn sikap sangat hormat menuangkan arak itu satu gelas penuh utk Ayah Tiri. Hitung² sbg rasa terima kasih atas jerih payahnya selama 1 thn! Dgn takjub Ayah Tiri memandang ke arah saya, wajahnya penuh dgn kegembiraan. Sekali mengangkat gelas & meneguk habis, mulutnya tak henti-²nya berkata, “Patut, sangat patut sekali!”

Tetapi utk selanjutnya biaya uang sekolah perguruan tinggi sejumlah 4.000 yuan itu membuat keluarga cemas. Ibu mengeluarkan segenap uang tabungannya serta menjual & meminjam kesana kemari, tetap masih kurang 500 yuan.

"Gimana nih? Kuliah akan dimulai satu hari lagi". Saat makan malam, hidangan diatas meja tdk ada seorang pun yg menyentuhnya. Ibu menghela napas panjang sedangkan Ayah Tiri berada disampingnya sambil merokok, sibuk memperbaiki alat tani ditangannya, saya tdk tahu mengapa hatinya begitu tenang? Suara napas Ibu membuat hati saya hancur luluh lantak.

“Sudahlah saya tdk mau kuliah! Apa kalian puas?” Saya berdiri dgn gusar, & bergegas masuk kamar, merebahkan diri di ranjang lalu mulai menangis…….. Saat itu saya merasakan ada satu tangan besar yg keras me-nepuk² pundak saya, “Sudah dewasa masih menangis, besok Ayah pergi berusaha, kamu pasti bisa kuliah.”

Malam itu Ayah membawa pipa rokoknya, menghisap seorang diri di halaman rumah hingga larut malam, percikan api rokok yg sekejap terang & gelap menyinari wajahnya yg banyak mengalami pahit getir kehidupan. Dia memejamkan sepasang mata, raut wajahnya menyembunyikan perasaan & sangat berat. Kepulan asap rokok dgn ringan menyebar didepan matanya, mengaburkan pandangan, tak seorang pun tahu apa yg sedang dia pikirkan, tetapi yg pasti dlm hatinya tdk tenang.

Besoknya Ibu memberitahu saya bhw Ayah Tiri pergi ke kabupaten. “Pergi utk apa?” Percikan bunga api dr harapan hati saya tersirat keluar.

“Dia bilang pergi ke kota mencari teman menanyakan apakah bisa pinjami uang.”

“Apa usaha temannya?” Ibu menggelengkan kepala, mulutnya bergumam, “Gak tahu.”

Hari itu saya menunggu di depan desa, memandang ke arah jalan kecil yg ber-kelok². Utk kali pertama perasaan hati saya ada semacam dorongan ingin bertemu Ayah Tiri, & utk kali pertama saya merasakan berharganya sosok Ayah Tiri dlm jiwa saya, masa depan saya tergantung pd dirinya.

Hingga malam saya baru melihat Ayah Tiri pulang. Saat saya melihat wajahnya yg penuh senyuman, hati saya yg selalu cemas, akhirnya bisa merasa lega. Ibu bergegas mengambil seember air hangat utk merendam kakinya. “Celupkanlah kakimu, berjalan pulang pergi 40 ㎞ perjalanan cukup membuat lelah.” Dgn lembut Ibu berkata pd Ayah Tiri.

Saya mengamati wajah Ayah Tiri dgn saksama, & menemukan bhw Beliau bukan lagi seorang pria yg masih kuat & kekar spt dulu. Wajahnya pucat pasi & bibir membiru, dahinya hitam penuh dgn kerutan, rambut pendek serta tangan kurus bagaikan kayu bakar, penuh dgn tonjolan urat hijau.

Memang benar, Ayah Tiri sdh tua. Dgn hati² Ibu melepaskan sepasang sepatunya yg hampir rusak. Di bawah sinar temaram lampu neon, terlihat sebuah benjolan darah besar yg sdh membiru masuk dlm pandangan saya, tak tertahankan hati saya merasa sedih, air mata saya diam² menetes keluar……..

Keesokan hari ketika saya berangkat kuliah, Ayah Tiri mengatakan Beliau tdk enak badan, diluar dugaan Beliau tdk bisa bangun dr tempat tidur.
Dlm perjalanan mengantar saya kuliah Ibu berkata, “Nak, kamu sdh dewasa, diluar sana semuanya tergantung pd diri sendiri. Sebenarnya Ayah Tirimu itu sangat menyayangimu, Dia sangat mengharapkanmu memanggilnya Ayah! Tetapi kamu……”

Suara Ibu sesenggukan, saya menggigit bibir dgn suara lirih berkata, “Lain kali saja, Bu!”

Setiap kali membayar uang kuliah, Ayah Tiri pasti pergi ke kota utk meminjam uang. Ketika liburan musim dingin & panas tiba, saya jarang berbicara dgn Ayah Tiri di rumah, Beliau sendiri juga jarang menanyakan keadaan saya. Tetapi kegembiraan Ayah Tiri bisa dirasakan setiap orang.

Setiap kali kembali ke tempat kuliah, Ayah Tiri pasti akan mengantar sampai ke tempat yg cukup jauh. Sepanjang perjalanan Beliau kebanyakan hanya menghisap pipa rokoknya. Semua kata² yg ingin saya utarakan kpdnya tdk tahu hrs dimulai dr mana.

Sebenarnya dlm hati kecil sejak dulu sdh menerimanya spt ayah kandung, cinta kasih kadang kala sangat sulit utk diutarakan! Dgn demikian saya selalu tdk bisa merealisasikan janji saya terhadap Ibu.

Pd liburan thn baru, rumah terkesan ramai sekali. Saat itu saya sdh kuliah di semester-6. Adik meminta saya bercerita tentang hal² menarik di kota,Ayah Tiri duduk di belakang Ibu, sibuk mengeluarkan abu tembakau stlh itu memasukkan tembakau ke dlm pipa, wajahnya penuh dg senyum kebahagiaan. Saya bercerita ttg keadaan kota, Adik membelalakkan mata dgn penuh rasa ingin tahu.

“Ah, teman sekelas kakak kebanyakan sdh mempunyai ponsel & laptop, sedangkan kakak sebuah arloji pun tdk punya.......” Pd akhirnya saya mengeluh dgn nada bergumam. Saat itu saya melihat wajah Ayah Tiri sedikit tegang, segera ada perasaan menyesal tlh mengucapkan kata itu.

Saat liburan usai saya hrs meninggalkan rumah kembali kuliah. Spt biasa Ayah Tiri mengantarkan saya. Sepanjang perjalanan, bbrp kali Ayah Tiri memanggil saya, tetapi ketika saya menanggapi, dia membatalkan berbicara, sptnya mempunyai beban pikiran yg sangat berat. Saya sangat berharap Ayah Tiri bisa memulai topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi baik dgnnya, namun saya selalu kecewa.

Ketika berpisah, Beliau berkata dgn kaku, “Saya tdk mempunyai kepandaian apa², tdk bisa membuat hidup kalian bahagia, saya sangat menyesalinya. Jika engkau sukses kelak, hrs berbakti pd Ibumu, biarkan Ibumu bisa menikmati hari tua dgn bahagia…” Saya menerima koper baju yg disodorkannya.

Tiba² saya melihat sepasang matanya ber-kaca². Hati saya menjadi trenyuh, mendadak merasakan ada semacam dorongan hati yg ingin memanggilnya “Ayah”, tp kata yg tlh mengendap lama ini akan terlontar dari mulut, mendadak tertelan kembali.

Ketika saya tlh berjalan jauh, saya lihat Ayah Tiri msh berdiri ditempat itu sama sekali tak bergerak, bagaikan patung.
Dlm hati saya berjanji: ketika pulang nanti, saya pasti akan memanggilnya “Ayah”. Namun kesempatan itu tak pernah saya dapatkan lagi. Saya tak mengira perpisahan kali ini utk selamanya.

2 bln stlh itu saya mendapat kabar bahwa Ayah Tiri meninggal dunia. Bagaikan halilintar di siang bolong, benak saya menjadi kosong, serasa dunia ini sdh tiada lagi. Saya pulang dgn perasaan linglung, yg menyambut saya dirumah adlh pipa rokok berwarna coklat kehitaman yg tergantung di tembok.

“Satu²nya hal yg paling disesali Ayah adlh tdk sehrsnya menamparmu, setiap kali mengantarmu kembali ke kampus, dia sangat ingin meminta maaf, tetapi ucapan itu selalu tak bisa keluar dr mulutnya. Sebenarnya mslh itu tdk bisa menyalahkan dirinya, kamu tdk tahu betapa sengsara hatinya, pipa itu adalah kesedihan seumur hidupnya!” Dgn hati pedih Ibu bercerita.

Melihat benda peninggalan itu teringat pemiliknya, dgn hati² saya ambil pipa yg tergantung di tembok itu, pandangan mata saya kabur krn air mata, merasakan kesedihan yg menusuk hati. Ibu juga tergerak hatinya, dia lalu bercerita tentang misteri pipa rokok itu…

30 thn lalu, Ayah Tiri hidup saling bergantung dgn Ayahnya. Ibu dgn Ayah Tiri adlh teman sepermainan sejak kanak². Stlh mrk tumbuh dewasa, mrk sdh tak terpisahkan lagi. Tetapi jalinan kasih mrk mendapatkan tentangan keras Kakek, sebab keluarga Ayah Tiri terlalu miskin.

Krn Ibu & Ayah Tiri dgn tegas mempertahankan hubungan mrk, Kakek terpaksa mengajukan sejumlah besar mas kawin kpd keluarga Ayah Tiri baru mau merestuinya.

Demi anak satu²nya, Ayah dari Ayah Tiri itu pergi bekerja di perusahaan penambangan batu bara. Malang tak dpt ditolak, terjadi kecelakaan di tambang itu. Dinding tambang runtuh & menimbun sang Ayah utk selamanya. Barang peninggalan satu²nya hanyalah pipa rokok kesayangannya semasa hidup.

Ayah tiri sangat sedih, seumur hidup orang yg paling dia hormati & sayangi adlh Ayahnya. Kemudian Ayah Tiri menyalahkan dirinya & merasakan penyesalan yg mendalam hingga tak ingin hidup lagi.

Keesokan harinya dia diam² meninggalkan rumah dgn membawa pipa rokok itu, tak seorang pun tahu kemana perginya…

Dua thn kemudian Ayah Tiri kembali lagi kekampung halamannya, tetapi 1 thn sebelum Ayah Tiri kembali, Ibu dipaksa utk menikah ( dgn ayah kandung saya). Utk selanjutnya Ayah Tiri tdk menikah, yg menemani hidupnya adlh sebatang pipa rokok yg tdk pernah lepas darinya.

Stlh Ayah kandung meninggal, Ayah Tiri memberanikan diri menanggung segala tanggung jawab utk menjaga Ibu, Saya & Adik. Sejak awal Beliau menolak mempunyai anak sendiri, Beliau berkata kami ini adlh anak kandungnya.

Selesai mendengarkan penuturan Ibu, tak terasa wajah saya penuh dgn air mata. Sungguh tak menduga jika pipa rokok itu bukan hanya memiliki kisah berliku perjalanan cinta mrk, namun juga mengandung ingatan yg amat berat seumur hidup Ayah Tiri!

“Ayah Tiri meninggal dunia krn pendarahan otak, sebelumnya dia sudah tdk bisa berbicara, hanya memandang Ibu dgn tangannya menunjuk ke arah kotak kayu. Ibu mengerti maksudnya hendak memberikan kotak kayu tsb kpdmu. Di dlm kotak itu terdapat bbrp lembar surat hutang, mungkin dia bermaksud menyuruhmu membayarkan hutangnya. Seumur hidupnya, dia tak ingin berhutang pd orang lain….”

Dgn sesenggukan saya menerima kotak kayu itu & membukanya dgn perlahan. Ada 8 lembar kertas di dlmnya. Saya membacanya & terkejut bukan main, tubuh menjadi lemas terkulai diatas ranjang.

Ibu saya buta huruf, kertas² yg ada dlm kotak itu bukan surat hutang spt yg dikatakannya, melainkan tanda terima jual darah! Ayah tiri tlh menjual darahnya! Kepala saya terasa pusing & tangan saya lemas. Kotak kayu itu terjatuh, dr dlmnya menggelinding keluar sebuah alroji baru…

“Ayah! Ayah..” Berlutut didepan kuburan Ayah Tiri dgn air mata bercucuran, saya hanya bisa me-nepuk² onggokan tanah merah yg ada dihadapan saya. Tetapi biar bgmnpun saya ber-teriak², tetap tak akan memanggil kembali bayangannya.

Ketika saya pergi meninggalkan rumah, saya membawa pipa rokok coklat kehitaman itu, saya akan mendampingi pipa ini utk seumur hidup saya, mengenang Ayah Tiri utk selamanya.

***

"Jangan sampai terjadi penyesalan atas perbuatan Anda selama ini, lakukan semua yang terbaik kpd orang² yg tlh berkorban banyak bagi masa depan Anda. Sayangi & hargailah mereka!!!"

Sekarang saatnya kawan, jangan tunggu nanti.. apalagi esok..!

Semoga Cerita Tentang Ayah Tiri ini bisa menginspirasi hidup kita semua!!