Selasa, 16 Oktober 2012

Nilai Murni UTS Ganjil Tahun Pelajaran 2012-2013

Selamat bagi siswa yang Lulus, semoga lebih ditingkatkan lagi di ulangan selanjutnya,
bagi siswa yang remidial silakan kerjakan tugas yang saya berikan, dan kumpulkan paling lambat pada waktu yang telah ditentukan....

terima kasih

untuk mengetahui daftar nama siswa, silakan klik disini

Selasa, 12 Juni 2012

Nilai Murni UKK Tahun Pelajaran 2011-2012

silakan klik disini

Selasa, 29 Mei 2012

Professor yang professional

Laku.com

Seorang profesor sedang memberikan pelajaran autopsi (bedah mayat) kepada para mahasiswa kedokteran yg mengelilinginy disuatu kelas. sang profesor berdiri disebelah mayat yg terbaring telungkup diatas meja.

"dalam dunia kedokteran,kita harus selalu ingat akan 2 hal penting.
pertama,kita harus tegar dan tdk mudah jijik"

Demikian kata profesor sambil mencolokkan jariny ke anus mayat lalu menjilatiny habis2an sprti makan eskrim.

"ayo,skrg giliran kalian praktek"

Maka dg amat sangat terpaksa para siswa itupun melakukan ap yg dipraktekkan oleh profesor. setelah semua siswa mndpt giliran utk melakukan, sang profesor melanjutkan kuliahny.

"dan yg kedua adalah memperhatikan sesuatu dg sangat cermat! coba, berapa diantara kalian yg memperhatikan bahwa tadi sy mencolokkan jari telunjuk dan menjilat jari tengah?"

#ngikkK…muntah2 ampe matek!

3 Sekawan

laku.com

kan ada tiga sekawan yaitu kodok,kecoa,dan ulatkaki seribu. terus si kodok membuat pesta dan mengundangdua kawannya tersebut sewaktu peesta berlangsung si kodok pun berkata
kodok =eh lupabeli rokok mulutdah asem nih, ulat pergi beliin rokok dong kecoa lu juga mau kan merokok
kecoa = so pastilah iya sana ulat beliin gue juga rokok
kaki lu kan ada seribu pasti cepet nyampenya
ulat kaki seribu = kok gue sih kenapa kau saja kodok
kodok = kan gue yang buat pesta karena kalu kamu cepet kan
ulat kaki seribu =ok deh gue pergi
dan si ulat pun pergi. si kecoa dan kodok pun menunggu setelah tunggu satu jam ulat belum muncul, 2jam kemudian nggak muncul-muncul.
kecoa = mana sih ulat gak muncul-muncul asem nih bibir
kodok = iye nih kta susul saja yuk
kecoa = oke deh
kata kecoak saat mereka pun pergi keluar dan terkejut
karena melihat kaki seribu ada di luar
kodok = ulat kok kamu belum pergi
ulat kaki seribu = lo gak lihat gue masih pasang sepatu

Rabu, 09 Mei 2012

Ibu Kandung yang Kejam

Selasa, 08 Mei 2012

Lucu gak ya....????

Laku.com
Seorang bos tiba2 melakukan sidak ke pabriknya untuk melihat kinerja pegawainya.

Di pabrik ia menemukan seorang pria muda sehat dan segar yg tengah bersandar santai-santai, sementara di ruangan itu semua pegawai sibuk bekerja.

Si bos segera menghampiri pria yg sedang berdiri santai itu dan bertanya, "Berapa gajimu sebulan?"

Dengan sedikit gugup pria itu menatap si bos dan menjawab," hemmm... Rp2 juta pak, emangnya kenapa pak..?"
Si bos lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil lembaran2 pecahan 100 ribuan lalu menyerahkan kpd pria itu sambil berkata, "Ini gajimu 3 bln ke depan, Rp6juta, pesangonmu!! Cepat keluar, pergi dari sini. Jangan balik lag!"

Dengan gugup dan setengah takut pria itu segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara.

Lalu dg muka yg berwibawa si bos mendekati pegawai lain yg sejak tadi menyaksikan adegan tsb. "Itulah nasib pekerja yang santai-santai di pabrik saya. Saya berhentikan saat ini juga. Tidak ada tawar-menawar.
Kalian semua MENGERTI ?!?!? OK, adakah yang tahu dari divisi mana pemuda itu?" tanyanya.

Suasana jadi hening sampai akhirnya seorang staf menjawab dg sedikit ketakutan, "Ia tidak bekerja disini pak, ia adalah pengantar pizza yg mengantar pesanan dan sedang menunggu bayaran dari saya..."

Kalau suka bantu share sm Like nya yah... ^^b

Rabu, 02 Mei 2012

PUISI

Label: , ,

Puisi adalah karya sastra yang universal. Puisi dapat mengungkapkan berbagai perasaan sedih dan gembira yang dialami oleh penyairnya. Bahasa yang digunakan penyair dalam menulis puisi mampu mengungkap latar belakang sosial, budaya, politik tempat penyair itu berada. Sebagai contoh, puisi-puisi Chairil Anwar dan puisi Angkatan ’45 lainnya, kebanyakan bercerita tentang keadaan sosial-politik pada waktu itu, yakni banyak terjadi peperangan. Jika puisi-puisi tersebut dibaca dalam konteks saat ini, pembaca pun akan dapat mengungkap realitas sosial-politik pada waktu itu, ketika puisi puisi itu diciptakan.

Begitu pula dengan puisi dari negara lain (puisi berbahasa asing). Secara struktural, puisi terjemahan diciptakan dengan struktur yang sama, yaitu memiliki tema, nada, rasa, dan amanat. Teknik yang digunakan dalam mengekspresikannya pun sama, yaitu rima, ritme, majas, diksi, imaji, dan kata nyata. Akan tetapi, karena latar belakang, pengalaman hidup, dan pengalaman batin penyair berbeda, isi puisi yang disajikan pada puisi dari negara yang berbeda akan memiliki kekhasan tersendiri. Karena kemajuan teknologi informasi, banyak karya sastra dari negara lain yang bisa dibaca di Indonesia.
Banyak pula pembaca di Indonesia (penikmat puisi) menyukai syair-syair dari negara lain. Bahasanya yang indah, pilihan katanya yang puitis, sering kali menjadi faktor mengapa sebuah puisi sangat disukai. Lebih dari itu, kedalaman makna yang terkandung dalam puisi tersebut, menjadi alasan penting mengapa seseorang menyukai puisi asing. Adanya kendala keterbatasan penguasaan bahasa asing, mendorong beberapa penyair menerjemahkan puisi-puisi asing tersebut. Dengan demikian, kini para pembaca dan penikmat puisi dapat mengapresiasi sebuah puisi melalui karya terjemahan tersebut.
Perhatikan salah satu contoh puisi terjemahan berikut ini!
Bibir yang Tersayat
Karya Samih al-Qasim
Ingin kuceritakan kepadamu
Kisah tentang seekor bulbul yang mati
Ingin kuceritakan kepadamu
Kisah .............................................
Kalau saja tak mereka sayat bibirku
Dikutip dari Membaca Sastra, hlm. 54
Merujuk pada puisi di atas, kita dapat mengetahui bahwa tema puisi di atas adalah ”kepedihan seseorang akibat ketertindasan”. Hal itu terungkap lewat larik puisi Ingin kuceritakan kepadamu/ Kisah tentang seekor bulbul yang mati// Kesedihan penyair lebih terasa karena ia dilarang berbicara untuk mengungkapkan kepedihan hatinya. Hal itu terungkap lewat larik puisi Ingin kuceritakan kepadamu/ Kisah ......../ Kalau saja tak mereka sayat bibirku// Pilihan kata di atas: ingin, mati, sayat jika dikaitkan dengan kondisi politik tempat penyair hidup (Palestina), tentu saja akan menimbulkan penafsiran yang sangat mendalam.

Pilihan kata tersebut merupakan ekspresi ketertindasan rakyat Palestina karena dirampas
haknya (hak untuk berbicara). Selain simbol-simbol bahasa berupa bunyi dan kata, teknik penuturannya pun dapat dijadikan alat untuk menyampaikan makna tertentu. Pada puisi ”Bibir yang Tersayat” di atas, penyair lebih memilih teknik bercerita atau berkisah. Pada puisi tersebut, pembaca dapat mengetahui bahwa penyair merasa tertekan karena kondisi politik yang terjadi di negaranya. Ia ingin sekali melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi itu, namun ia tak berdaya akibat adanya perampasan hak bicara.

Puisi lama merupakan pencerminan masyarakat lama yang masih kuat berpegang pada adat. Berbeda dengan puisi lama, puisi baru merupakan pencerminan masyarakat baru. Puisi baru tidak terlalu terikat pada aturan, terutama dalam persajakan. Puisi baru juga mencerminkan sifat kepribadian individual. Timbulnya puisi baru dipelopori oleh para sastrawan muda dalam Angkatan Pujangga Baru. Pada tahun 1930-an merupakan masa tumbuh dan berkembangnya semangat persatuan dan kesatuan. Puisi baru memang tidak terlalu terikat pada aturan sebagaimana puisi lama. Akan tetapi, dalam pembuatan puisi baru, tetap memerhatikan bait, irama, dan rima.
Perhatikan contoh puisi baru berbentuk soneta berikut!
Api Suci
Sutan Takdir Alisjahbana
Selama napas masih mengalun,
Selama jantung masih memukul,
Wahai api bakarlah jiwaku,
Biar mengaduh biar mengeluh.
pengantar
Seperti waja merah membara,
Dalam bakaran api nyala,
Biar jiwaku habis terlebur,
Dalam kobaran nyala raya.
kuatren
Sesak mendesak rasa di kalbu,
Gelisah liar mata memandang,
Di mana duduk rasa dikejar.
isi
Demikian rahmat tumpahkan selalu,
Nikmat rasa api menghangus,
Nyanyian semata bunyi jeritku.
Pada contoh puisi baru tersebut, masih tampak penggunaan
Pembahasan
tentang isi puisi berkenaan dengan gambaran pengindraan atau
pencitraan, perasaan atau emosi, pikiran, dan imajinasi.
1. Gambaran Pengindraan dalam Puisi
Gambaran pengindraan dalam puisi meliputi pengindraan
penglihatan, pendengaran, dan perasa. Pengindraan penglihatan
dapat ditemukan dalam larik-larik puisi

”Gadis Peminta-minta”
karya Toto Sudarto berikut.
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa.
....
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Melalui kata-kata tersebut, pembaca seolah-olah dapat melihat
kedukaan penyair secara lebih jelas.
Pengindraan pendengaran adalah ungkapan dari penyair
dalam puisi yang membuat pembaca seolah-olah dapat
mendengarkan suara yang digambarkan oleh penyair. Contoh
pengindraan pendengaran dapat ditemukan dalam larik-larik
puisi ”Asmaradana” karya Goenawan Mohamad berikut.
Ia dengan kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari
daun
Karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta
langkah pedati. Ketika langit bersih menampakkan bima
sakti.
....
Pengindraan perasa merupakan penciptaan ungkapan oleh penyair yang dapat memengaruhi perasaan pembaca puisi. Contoh pengindraan perasa dapat ditemukan dalam larik-larik puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar sebagai berikut.
....
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengab harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Penggunaan kata-kata dalam larik-larik puisi tersebut
mengajak pembaca merasakan kedukaan secara mendalam.

2. Emosi dalam Puisi
Emosi atau perasaan merupakan unsur yang utama dan mendasar dalam puisi. Emosi sangat beragam, misalnya menggembirakan, menyedihkan, mengerikan, menakutkan, benci, jijik cemburu, malu, dan sebagainya. Emosi dalam puisi harus cocok dan seimbang dengan situasi yang dikemukakannya. Contoh larik puisi yang mengungkap emosi penyesalan dapat ditemukan dalam larik-larik puisi ”Menyesal” karya Ali Hasjmi
berikut.
Akh, apa guna kusesalkan.
Menyesal tua tidak berguna,
Hanya menambah luka sukma.

3. Imajinasi
Imajinasi dalam puisi merupakan daya pikir penyair untuk membayangkan atau menciptakan gambaran kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalamannya. Berikut adalah contoh imajinasi Burhanudin yang ditulis dalam puisi berjudul ”Senja di Pantai”

Senja di Pantai
Lihat perahu yang tertambat
debur ombak tanpa lelah
riaknya tinggalkan buih
saksikan kesendirian, berjalan
menyisir pantai, pasir bisu
rumah kerang dan siput yang rapuh
tanpa sapa,
nestapa 
sebagai kamu yang makin jauh
 
http://jurangpengetahuan.blogspot.com/2011/01/puisi.html

Minggu, 29 April 2012

PENULISAN KATA

. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya: ibu, percaya, kantor

B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya: dikelola, bergeletar, penetapan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Mislanya: menggarisbawahi, penghacurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adipati, mahasiswa, mancanegara

C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak, gerak-gerik

D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazin disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: duta besar, orang tua, kambing hitam
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan. Misalnya: alat pandang-dengar
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya: acapkali, matahari, manasuka

E. Kata Ganti –ku, kau-, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: kumiliki, kauambil, bukuku, rumahmu, bajunya

F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: di lemari ke pasar, dari Banjarmasin

G. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: sang Kancil, si pengirim

H. Partikel
1. Paratikel –lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Bacalah buku itu baik-baik.
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya: …per 1 April.

I. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya:A.S. Kramawijaya
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misanya: DPR
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll.
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya: Cu, TNT, Rp

2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya: ABRI, LAN, IKIP
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital Misalnya: Akabri, Bappenas
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu, radar, rapim

J. Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi. Angka Arab: 0, 1, 2 Angka Romawi: I, II
2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas. Misalnya: 0,5 sentimeter, 100 yen
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya: Jalan Tanah Abang I No. 15
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan utuh. Misalnya: dua puluh dua, dua ratus dua puluh dua
b. Bilangan pecahan. Misalnya: seperenam belas, tiga dua pertiga
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut. Misalnya: Paku Buwono X, Bab II, Tingkat V, Abad ke-20
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut. Misalnya: tahun ’50-an, uang 5000-an
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilagan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya: Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, sesunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat. Misalnya: Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya: Perusahaan itu baru saja mendapat pinaman 250 juta rupiah.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya: Kantor kami memunyai dua puluh orang pegawai.
12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya: Saya lampirkan tanda uang sebesar Rp 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).